Berita

Post Top Ad



Berita Ipmafa – Jika semuanya, termasuk dunia perbankan sudah serba digital, lantas apa artinya mahasiswa menuntut ilmu perbankan syariah? Kalau semuanya sudah digital, masihkan mahasiswa dibutuhkan dunia perbankan ke depannya?

Demikian petikan sambutan Kepala Program Studi Perbankan Syariah Institut Pesantren Mathali’ul Falah (Prodi PS Ipmafa) Pati Puji Lestari, M.Si dalam Kuliah Pakar bertajuk Mencetak SDI Perbankan Syariah yang Handal dan Berkualitas di Era Perkembangan Industri 4.0 di Aula 2, Senin, 24 Februari 2020 lalu.

“Kita dihadapkan dengan era serba digital. Beli makan bisa digital, beli jilbab, digital. Nah, bagaimana jika di dunia perbankan semuanya serba digital, lantas apa artinya kita menuntut ilmu perbankan syariah? Kalau semuanya sudah digital, maka sebenarnya kita ini dibutuhkan apa ndak di dunia perbankan?” tutur Puji.


Menjawab hal tersebut, sebagaimana dilansir ps.ipmafa.ac.id, Branch Manager BRI Syariah Hadi Suseno, M.Sos, M.M menegaskan kepada mahasiswa bahwa untuk menjadi SDI di era perkembangan industri 4.0 ini, para mahasiswa harus memiliki pengetahuan perbankan Syariah yang mumpuni sekaligus berbekal skill yang terkait dengan kemampuan pemanfaatkan teknologi, kemampuan berkomunikasi, kemampuan berbahasa asing, serta kemampuan menjalin relasi untuk pengembangan jaringan.

Hadi Suseno menambahkan, salah satu strategi menghadapi revolusi 4.0 di antaranya melakukan pelayanan Internasional sehingga memerlukan SDI yang cakap dalam melayani, berkomunikasi dan berbahasa asing. Selain itu pelayanan perbankan saat ini juga dikembangkan dalam satu layanan yang berbasis teknologi atau biasa disebut dengan digital banking.

“Maka SDI perbankan Syariah harus mampu mengisi ruang tersebut dengan kemahiran penguasaan teknologi sebagai modal utama,” terang Hadi.

Senada dengan narasumber, Dekan Fakultas Syariah Ipmafa Umdatul Baroroh, MA menegaskan bahwa visi kepesnatrenan Ipmafa tidak sekedar simbol peci dan jilbab, tapi nilai yang akan menjadi ruh baik dalam keademikan maupun akhlak.


Nilai menjadi ruh di dunia akademik dimaksudkan seorang praktisi PS tidak hanya mengerti soal-soal PS sebagai keilmuan yang harus dikuasai saja, tetapi juga memiliki penguasaan yang baik terhadap visi kesyari’ahan.


Karena sebagian besar dari para praktisi PS mungkin tidak banyak yang paham tentang apa sebenarnya PS dibalik kata Syari’ah. Sehingga nantinya publik tidak akan menilai bahwa PS ini tidak sekedar pengalihan bahasa semata,” tegas Umdah.

Umdah mencontohkan, sebagai calon praktisi mahasiswa harus membekali diri dengan keilmuan dan kemampuan mengatasi permasalahan dalam perbankan syariah. Sehingga tidak sekedar punya keilmuan yang secara akdemik dan teoritik, tapi dalam dunia praktik Anda punya etos kerja tinggi dan mampu mengatasi permasalahan secara solutif.

Karena mungkin sebagian dari mahasiswa belum melihat secara langsung apa permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam dunia perbankan. Jangan sampai ketika terjuan Anda terkaget-kaget,” pungkas Umdah.


No comments:

Post a Comment

Post Top Ad